Kembalikan Ke-Indonesia yang Normal (Memperingati HUT-RI Ke-75)

 Ini bukan puisi


Apa yang sudah kalian persiapkan untuk menyambut HUT-RI Ke 75 ? kali ini ditahun 2020 yang agaknya suasananya berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang tentu saja disambut dengan suka cita dengan beragam lomba tradisonal bahkan lomba-lomba nyeleneh, pawai dimana-mana sambil bersorak gembira, kini tradisi peringatan itu harus ditiadakan ditahun ini. Sambutan yang hangat mungkin saat ini dengan menjaga jarak adalah sambutan yang paling baik, sorakan kita yang tentu saja terhalang masker yang harus selalu melekat menutup lengkungan bahagia menatap merah putih yang masih tetap kokoh menjulang tinggi, berkibar dilangit biru Indonesia.

Pandemi covid-19 yang masih merajalela tanpa rindu pulang, beragam aksi dilakukan namun nampaknya enggan lenyap. Titik tumpu kecemasan dan kekhawatiran yang masih dirasakan sesak oleh umat manusia yang ada dimuka bumi Indonesia. Tanah air tempat tumbuh kami dengan susah sedih yang harus melewati ribuan purnama tanpa jeda. Tanah air yang kami banggakan kini tengah merintih memikul beban tiada akhir, dibanjiri air mata nyawa-nyawa yang menjejakkan kaki diatas bumi-Nya.

Apa kabar semboyan Gemah Ripah Loh Jinawi bagi Indonesia sekarang ? semboyan yang selalu digadang-gadangkan oleh rakyat indonesia, apakah buktinya luntur untuk saat ini ?. Rakyat yang mulai mengeluarkan bait-bait nelangsanya karena ladang pundi-pundi penghasil rupiah diputus secara paksa, opini pemerintah dalam program kesejahteraan masyarakat selalu menjadi perbincangan hangat. Isu-isu krisis ekonomi yang merajai pemberitaan publik, Anak sekolah yang harus menanggung beban kuota sampai rela menjual jasanya merangkul adukan semen, bahkan orang tua yang rela mempermalukan diri demi alat informasi untuk belajar. Apakah analisis ini memberi kesimpulan bahwa Indonesia belum sepenuhnya merdeka hingga saat ini ?. Jawabannya ada pada diri kalian masing-masing dan pendapat seseorang tentu akan memunculkan banyak perspektif berbeda.

Kemerdekaan adalah sesuatu yang menjadikan nyaman dan tentramnya rakyat untuk mengolah diri menjadi pribadi yang berguna, menciptakan sebuah kreativitas dan melakukan beragam aktifitas yang disenangi walau selalu tokoh-tokoh sejarah dan siapa saja mengingatkan untuk tidak melupakan sejarah bangsa sendiri. Bangsa yang maju apabila menghargai sejarah. Untuk itu perayaan kali ini walau dengan mengurai airmata tanpa sorakan dari sabang sampai merauke yang sunyi kita yakin bahwa perjuangan dan pengorbanan pahlawan kita selalu tersemat dalam jiwa kami yang suci dan berani.

Do’a kami diperayaan kemerdekaan untuk saat ini adalah bumi sembuh dari derita dan sadar diri bahwa bumi sedang tidak baik-baik saja. Namun bebaskanlah anak-anak kembali bersitatap dengan guru mereka memakai seragam sekolah tanpa aling-aling lagi walau tetap harus menerapkan protokol kesehatan yang baik karena sebagian belum siap untuk menerima pembelajaran kaku lewat daring. Bebaskan rakyat untuk kembali bekerja dan menikmati hidup dengan normal. Lindungi pasukan garda terdepan kami para tenaga kesehatan dan medis yang tengah berjuang memerangi covid-19.






DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA

SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA

 

Tonjong, 16 Agustus 2020

Penulis

 Ela Nuraeni Fajarwati, S.Pd

 

Komentar